pemimpin dan kepemimpinan

01/09/2013

bener-bener deh hari ini, dari siang saya buka twitter, liat berita, sampai tadi malem buka twitter lagi, ga ada satu hal pun yang ga menggelitik saya soal pemimpin. saya ceritain satu-satu deh.

nomor 1. saya liat berita rhoma irama yang di wawancara sama najwa shihab. ini menarik banget. sebetulnya kalo liat beritanya ga baru pertama kali, tapi saya baru liat videonya. yang saya highlight pertama kali adalah salah satu alesan rhoma irama mau jadi capres : keterpanggilan. what the fuck, mana ada khalifah-khalifah dulu yang terpanggil untuk jadi khalifah. mereka semua ga ada yang mau jadi pemimpin. saking gamaunya jadi pemimpin, umar bin khattab menangis ketika ditunjuk jadi pemimpin, dan menganggap penunjukkan beliau sebagai khalifah adalah suatu musibah. kenapa? tanggung jawabnya super berat, boss! ini kok sampe terpanggil, super sekali bukan?
yang keren lagi adalah inkonsistensi yang secara konsisten ditunjukkan sama jawaban-jawaban yang saling silang, bahkan cukup membingungkan untuk saya yang awam. detailnya boleh dicek di http://politik.kompasiana.com/2012/11/29/rhoma-irama-mendadak-capres-dagelan-di-mata-najwa-512747.html . sangat terlihat ketidaksiapan bang haji, bahkan cenderung jawabannya bodoh, tidak sepantasnya keluar dari seorang tokoh publik yang mencalonkan diri, eh bukan, kata dia baru wacapres, wacana calon presiden. HAHAHA. doh maap bang, saya pengen ketawa ga ketahan. tapi bukannya saya mendiskreditkan anda, saya suka banyak sekali karya anda, tapi kalo ga ngerti sesuatu tu mbok yak diem. katanya da’i, ada kan hadits diam itu emas? haha. bener-bener deh pokoknyamah.

nomor 2. terusan dari nomor 1 sih sebenernya, lantas saya mikir. kok jaman sekarang orang berlomba-lomba jadi pemimpin ya? sekarang bayangin kasus paling gampang deh, ada lubang di jalan raya, ada yang celaka terus meninggal gara-gara lubang itu (bahkan ini udah kejadian di pasteur depan aquila). emangnya walikotanya ga disuruh tanggung jawab di akhirat? lebih jauh lagi gubernur? presiden? sekjen pbb? subhanallah sekali bukan. sementara menjelang pilgub jabar, udah banyak tuh spanduk dimana-mana, rata-rata minimal sekilo sekali kita nemuin spanduk cagub-cawagub. katanya muslim, kok kayak ga muslim. saya aja yang agamanya jauuuuuuuuh sekali dari dalem, pernah denger cerita umar bin khattab, mereka ga denger atau ga peduli ya? padahal buat kebaikan mereka masing-masing di akhirat nanti. buat kebaikan mereka sendiri aja ga mikirin, gimana buat kita rakyat-rakyat lapar ini?

nomor 3. itu teh saya ngebatin sore, malem-malem dateng langsung hareupeun panon contoh kasusnya. salah seorang rekan seSMA (kalaupun gamau dibilang temen) lagi apalah, pemilu apa lah itu ga ngerti gw juga, tapi tingkatnya ga gede, kalo ga salah cuma sebates fakultas. plis deh, sampe bikin twitter, dan yang paling bikin kaget, BIKIN WEBSITE DENGAN DOMAIN SENDIRI! iya sih sekarang udah murah, tapi plis deh, lu dapet apa sih jadi ketua blablabla itu? geli deh.

ya, aneh sih. pemimpin mulai lebih penting dari kepemimpinan.
saya pernah ngobrol-ngobrol soal pemimpin. kalo ditilik-tilik dari dulu, pasangan  pemimpin-calon pemimpin yang biasanya sukses di indonesia itu gabungan antara pemimpin dan pemikir/pemimpi. biasanya seorang pemimpin kurang dalam berpikir, begitu juga sebaliknya. lihat saja duet pertama orang nomer 1-2 di indonesia, bung karno sebagai sosok pemimpin dan bung hatta sebagai sosok pemikir. yang paling baru adalah tentu saja jokowi-ahok. oh god, betapa saya sangat mengidolakan ahok, dia mikir apa langsung tindak, mikir apa lagi ga pake panjang-panjang langsung kejadian. cocok sama jokowi yang lebih seneng kalem, mikir pelan-pelan.

tapi ngomongin orang-orang di pemerintahan yang ekstrim terhadap pemerintahan ngeri juga ya. mereka pasti banyak musuhnya. semoga mereka dilindungi deh ya sama tuhan, siapapun tuhan mereka..

intinya sih lagi-lagi kepesimistisan. kadang-kadang saya mikir juga, orang luar sepesimis apa ya sama negaranya masing-masing? apa negara ini atau dunia ini yang jadi awal mula kepesimistisan? tapi biasanya sih selalu ada yang bisa bikin kita kembali optimistis. dan lebih jauh lagi, harusnya kita–golongan terdidik nan intelek–yang memberi mereka keoptimistisan.

saya sadar ini tulisan ngalor ngidul, tapi toh lumayan dibaca kalo kalian semua punya mimpi yang mirip dengan saya. :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,002 other followers

%d bloggers like this: